Friday, May 9, 2014

BERLIAN DI ATAS LUMPUR


Saudaraku,…
Sungguh sebuah kebahagiaan yang sangat besar jika seorang muslim memperoleh kasih sayang Allah berupa kekuatan iman dan Islam yang tangguh. Karena Allah tidak memberikan kemuliaan ini pada setiap orang. Jika kita hitung manusia di seluruh jagad ini yang bersyahadat kepada Allah dan rasul-Nya, sungguh sedikit sekali yang memiliki kekuatan iman yang tangguh. Setiap muslim yang berjalan menuju Allah bukanlah seorang nabi atau manusia yang telah memiliki kekuatan iman yang luar biasa sejak lahir. Iman dibentuk oleh ketaatan yang dilakukan terus-menerus. Semakin sering seorang muslim berbuat ketaatan, maka semakin hebat pula kekuatan iman yang dimilikinya. Demikian pula sebaliknya, keimanan seorang dapat melemah kalau ia meninggalkan kebaikan yang disyaratkan oleh Allah.

Terlepas dari semua itu, segala bentuk keimanan yang datang dan melekat pada manusia tidak pernah terlepas dari kekuatan dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan ini tidak sebatas pada orang-orang yang berada dalam lingkungan kebaikan. Janganlah sekali-kali terlintas dalam pikiran kita kalau iman yang tangguh hanya terlahir dalam lingkungan pesantren atau madrasah saja. Tidakkah Anda ingat sahabat Rasulullah Saw. terkasih Umar bin Khaththab ra.? Beliau sebelum mengenal Islam adalah orang yang paling gigih memerangi Nabi Muhammad Saw. Dan ketika ia sudah berada di dalam barisan muslimin ia menjadi pembela Rasulullah yang paling ditakuti barisan kaum musyrik di Makkah. Lalu ingatkah pula Anda kepada istri Fir’aun yang melawan suaminya dan kekejaman yang ,menyertainya.

Perlawanan ini ini sebenarnya dimulai ketika Nabi Musa a.s. berhasil mengalahkan para tukang sihir Fir’aun. Asiyah, yang turut menyaksikan kesuksesan Musa, bertambah tebal imannya. Sebenarnya, telah lama Asiyah beriman kepada Allah SWT, tetapi hal ini tidak diketahui suaminya.
Lama-lama Firaun mengetahui juga akan keimanan Asiyah itu. Firaun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu.

Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya yang telanjang di hadapankan langsung ke arah datangnya sinar matahari. Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, demikian pikir Firaun.
Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu.

Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat. Hal ini membuat Firaun memerintahkan hukuman lain yang lebih berat. Ia memerintahkan agar kepada tubuh Asiyah yang telentang itu dijatuhi batu besar. Tubuhnya pasti remuk, pikir Firaun.

Ketika Asiyah melihat bahwa ada batu besar yang hendak dijatuhkan ke tubuhnya, berdoalah dia kepada Tuhan. "Wahai Allah, Tuhanku! Bangunkah untukku di sisimu sebuah gedung di surga." (At-Taubah: 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di surga yang terbuat dari marmer berkilauan. Asiyah sangat gembira, lalu rohnya keluar meninggalkan tubuhnya. Asiyah tidak merasakan kesakitan apa pun, karena ketika batu besar itu menimpa tubuhnya, rohnya sudah tidak ada di sana.

Demikian lah sedikit cerita mengenai istri Fir’aun yang beriman kepada Allah. Asiyah itu seperti sebuah mutiara dalam lumpur yang pekat. Ia selalu berkilau memancarkan keindahan yang mengalahkam keburukan-keburukan di lingkungannya. Hal yang sama terjadi pula dilingkungan kita. Kita tidak pernah tahu keimanan yang melekat pada hati seseorang. Jangan terlalu mudah menghakimi seseorang yang buruk dengan keburukan yang tidak kita ketahui. Jangan merendahkan saudara Anda yang hanya karena tempat tinggalnya jauh dari nilai-nilai Islam. Karena Anda tidak akan pernah tahu pada masa yang akan datang apakah Anda masih memiliki keimanan seperti sekarang atau Anda menjadi bagian kemaksiatan dari tuduhan Anda tersebut.

Saudaraku,…
Selalu berpikirlah positif mengenai saudara Anda, betapun buruknya kehidupan dan latar belakangnya. Dan janganlah Anda berbagga diri dengan kebaikan dan kumuliaan yang Anda miliki. Sungguh Allah SWT dapat mencabut apa saja yang Anda miliki jika Anda takabur dengan nikmat-nikmat-Nya. Allah memiliki kuasa yang luar biasa terhadap diri Anda dan saudara Anda yang lainnya. Ingatlah hal itu, saudaraku!

BERITA DUKA


Saudaraku, …
Tahun-tahun ini benar memang kalau disebut tahun yang berdarah. Entah dosa apa yang menghinggapi bumi ini sehingga menerima nasib yang begitu mengenaskan. Orang-orang kuat saling berperang menumpahkan darah. Tapi yang berdarah bukanlah musuhnya yang diperangi, tapi kerabat sendiri yang berlindung dari kejamnya permusuhan. Sesekali tedengar kabar seorang balita di atas gendongan meninggal percuma menemani ibunya yang tubuhnya terberai diterjang peluru. Kudengar pula banyak orang menangis membanjiri bumi dengan kedukaan yang mendalam. Pernahkah kita mencoba mengerti bahwa kita membutuhkan cinta lebih besar dari kebencian dan permusuhan kita kepada orang lain?

Kita yang menjadi saksi hanya terdiam tanpa mampu melakukan apapun, selain hanya mengabarkan berita duka melalui kata dan air mata yang sesekali menetes pelan dari mata yang kusam.

BISIKAN IBLIS


Saudaraku,…
Yang sering kita namakan bisikan iblis yang suka membujuk manusia untuk melakukan perbuatan yang tidak sepatutnya, sesungguhnya adalah bisikan dari pikiran kita sendiri. Pikiran yang menyimpan kenang-kenangan senang dan susah, membentuk Si Aku yang selalu ingin mengejar kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Selain pandai menyimpan kenangan masa lalu, juga Si Aku suka membayang-bayangkan kesenangan yang khayal, dua hal inilah yang mendorong orang melakukan sesuatu yang tidak patut.

Keinginan untuk mencapai dan memperoleh hal-hal menyenangkan yang dibayangkan itulah yang menjerumuskan kita ke dalam perbuatan-perbuatan sesat. Keinginan memperoleh kesenangan ini besar sekali kemungkinannya melahirkan cara-cara pengejaran yang jahat. Pengejaran kesenangan yang berupa uang dapat mendorong orang melakukan korupsi, penipuan, pencurian, pemerasan dan sebagainya lagi. Pengejaran kesenangan yang berupa kedudukan dapat mendorong orang untuk saling jegal, saling hantam dan mungkin saling bunuh dan menimbulkan perang. Pengejaran kesenangan yang berupa sex dapat mendorong orang untuk melacur, berjina, memperkosa dan sebagainya lagi.



Tulisan ini dikutip dari :
Cerita silat karya ASMARAMAN S / KHO PING HOO




Friday, April 25, 2014

BERGANTUNG KEPADA ALLAH


Saudaraku,…
Sebenarnya dalam kehidupan ini tidak pernah ada kesulitan, juga tidak pernah ada kemustahilan, selama kita tetap berusaha mewujudkannya. Keridhaan Allah selalu menyertai orang-orang yang memiliki kesungguhan luar biasa terhadap apapun yang dikerjakannya.

Jika Anda mengalami sebuah sebuah kesulitan, kenapa harus gelisah mengandalkan diri sendiri, saudaraku. Libatkanlah Allah SWT dalam menyelesaikan kesulitan tersebut. Bukankah Anda mengimani Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Kuasa? Bukankah Anda juga mengimani kekuasaan Allah yang luar biasa? Tanamkanlah dengan sangat kuat di benak Anda bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan bagian kecil dari rencana-Nya. Jika ini yang terjadi, bagian tidak menyenangkan dari kehidupan Anda akan terasa sangat menyenangkan. Allah tidak akan membiarkan Anda kepayahan, jika Anda juga tidak mengabaikan Allah dalam urusan-urusan dunia Anda.

Allah SWT berfirman, “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas : 2).

Tidakkkah firman Allah ini menguatkan kita untuk menyandarkan setiap kesulitan, kepayahan atau harapan-harapan kita hanya kepada Allah SWT? Mendekatlah kepada Allah dengan jarak yang sedekat-dekatnya, seolah-olah Allah berada di dekat urat leher Anda. Kerjakanlah shalat lima waktu pada waktunya. Kerjakanlah pula shalat tahajud, shalat duha, shalat hajat, shalat rawatib, dan jangan lupa jadikanlah membaca Al-Qur’an menjagi bagian menyenangkan dari hidup Anda. Lalu kuatkanlah kedekatan Anda dengan Allah ini dengan bersedekah setiap saat.

Saudaraku,…
Jika Anda mampu menjaga kualitas kedekatan dengan Allah seperti ini, bukan hal mustahil jika harapan-harapan Anda akan diwujudkan Allah dalam waktu yang singkat. Selamat sauadraku, jikalau Anda memperoleh kemuliaan mampu  berdekatan dengan Allah dalam keadaan yang menyenangkan.

Friday, April 18, 2014

BERBURU KEBAHAGIAAN


Saudaraku,…
Orang yang haus akan kebahagiaan adalah orang yang tidak berbahagia. Kenyataannya bahwa kita ingin berbahagia menunjukkan bahwa kita tidak berbahagia. Ini merupakan fakta. Nah, dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin dapat menemukan bahagia? Yang tidak berbahagia itu bukan lain adalah yang mendambakan kebahagiaan itu juga. Dalam keadaan sakit, bagaimana mungkin tubuh mendambakan kesehatan? Yang terpenting bukan mencari-cari kesehatan, melainkan menghilangkan penyebab sakit, apakah kita butuh akan kesehatan lagi. Demikian pula dengan kebahagiaan.

Yang terpenting adalah mengamati, mempelajari, dan meyakinkan mengapa kita tidak berbahagia! Kalau penyebab yang mendatangkan ketidakbahagiaan itu lenyap, apakah kita butuh lagi kepada kebahagiaan? Tentu saja tidak butuh! Orang yang tidak sakit tidak butuh kesehatan karena memang sudh sehat. Orang yang tidak ‘tak berbahagia’ tidak membutuhkan kebahagiaan lagi karena sesungguhnya dialah orang berbahagia! Seperti juga kesehatan, kita tidak pernah menyadari kebahagiaan. Kalau kita sehat, kita lupa bahwa kita sehat, kita tidak dapat menikmatinya.

Demikian pula kalau kita berbahagia, kita lupa atau tidak tahu bahwa kebahagiaan tak pernah meninggalkan kita. Kalau kita sakit, baru kita rindu kesehatan, kalau kita sengsara baru kita mendambakan kebahagiaan! Pada hal, kebahagiaan, seperti Tuhan dan kekuasaanNya, tidak pernah meninggalkan kita sedetikpun. Kitalah yang meninggalkan Dia!

Nafsu daya rendah telah mencengkeram kita lahir batin sehingga nafsu yang diikut-sertakan kepada kita dan yang semula dijadikan pembantu dan alat kita dalam kehidupan ini, berbalik memperalat kita sehingga kita diperhamba. Nafsu mencengkeram kita dan mendorong kita untuk selalu mengejar-ngejar keenakan dan kesenangan diri lahir batin. Hidup kita hanya diseret ke satu arah, satu arah mencapai tujuan, yaitu keenakan dan kesenangan!

Dan untuk mencapai tujuan ini, kita menghalalkan segala cara karena sudah lupa diri, lupa bahwa kita ini manusia, mahluk tersayang yang mendapat anugerah Tuhan secara berlimpah-limpah. Kita melupakan Tuhan, hanya menyebut nama Tuhan dalam mulut saja, itupun kita lakukan kalau kita sedang ditimpa kesengsaraan! Kesengsaraan yang menimpa diri kita karena akibat ulah kita sendiri, membuat kita ingat kepada Tuhan, ingat untuk minta tolong, untuk minta dibebaskan dari kesengsaraan! Dalam keadaan menderita, baru kita menjerit-jerit minta ampun kepada Tuhan!

Permintaan ampun seperti itu biasanya tidak ada gunanya, karena kita minta ampun dalam keadaan menderita, dengan satu tujuan terselubung, yaitu terlepas dari kesengsaraan! Permintaan ampun seperti itu hanya suatu cara untuk memperoleh keenakan dan kesenangan karena bebas dari derita. Kalau sudah terbebas dari derita, maka kitapun sudah lupa lagi kepada Tuhan! Itulah ulah nafsu yang sudah mencengkeram hati akal pikiran, sehingga apapun yang kita lakukan menuruti dorongan hati akal pikiran yang masih bergelimang nafsu yang selalu berpamrih demi kesenangan diri.

Saudaraku,…
Bebas dari cengkeraman nafsu berarti selalu berada dalam bimbingan kekuasaan Tuhan. Apapun yang kita lakukan merupakan suatu kebaktian kepadanya karena tidak ada saat di mana kita lupa kepadanya, seolah setiap denyut jantung, setiap gerakan, setiap hembusan napas merupakan pujian dan pujaan kepadanya.

Tulisan ini dikutip dari :
Cerita silat karya Asmaraman S / Kho Ping Hoo
Tulisan ini dikutip dari :

SEMUA TIDAK TERJADI BEGITU SAJA

Setiap kejadian yang hari ini terjadi padamu, bukan serta merta terjadi begitu saja. Jujur saja. Jangan pura-pura kaget dan seolah menjadi k...