Sunday, October 12, 2014

MEMBANGUN PONDASI AGAMA

Saudaraku,…
Secara etimologi akidah berasal dari kata ’aqd yang berarti pengikatan. Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, “Dia mempunyai akidah yang benar,” berarti akidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Adapun makna akidah secara syara’ yaitu, iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Kita menyebutnya sebagai Rukun Iman. 

Akidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Bagi anda yang menganggap sepele masalah akidah ini, berhati-hatilah menjaga agama anda. Menjalani kehidupan di dunia ini bukan hanya perkara sulit untuk memperoleh materi duniawi, tapi juga perjuangan yang tidak mudah untuk menegakkan agama yang anda yakini kebenarannya. Keyakinannya terhadap Allah dan kebenaran Islam akan bersentuhan dengan keyakinan lain yang ditimbulkan oleh keruwetan dunia dan godaan-godaan menggiurkan yang akan mengikutinya. Ketika interaksi akidah anda dengan keruwetan dunia semakin meninggi, maka akidah tersebut akan mengalami seranagn yang luar biasa hebat. Dan situlah kemudian akidah anda akan menunjukkan perannya. Apakah bangunan agama anda akan terhempas layaknya bangunan rapuh yang dihempaskan angin puyuh  ? Atau sebaliknya, bangunan agama yang anda pelihara, tetap berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan pada setiap sisi dindingnya. Karena itulah, jadikanlah akidah anda sebagai pondasi yang kuat bagi bangunan agama yang anda yakini kebenarannya.

Dan bagian kecil dari usaha Anda untuk memperkuat pondasi tersebut adalah membersihkan akidah anda kepada sesuatu selain Allah SWT. Kalau sekali saja anda memiliki kecenderungan yang berlebihan kepada segala sesuatu selain Allah, maka itulah kelalaian anda yang paling besar. Sesungguhnya Islam tidak bisa dibangun dengan pondasi seperti itu. Kekuatan bangunan Islam dimulai dengan pondasi akidah yang mengikat seluruh pikiran dan segala gerak tubuh kepada allah SWT. Tidak ada yang lain. Bangunan Islam tidak akan bisa ditegakkan ketika sekejap saja hati kita berpaling sesuatu yang fana, betapapun itu menyenangkan hati kita.

Saudaraku,…

Allah SWT  berfirman, "Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (QS. Az-Zumar : 2-3).

Karena itulah yang menjadi perhatian kita pertama kali adalah menjernihkan segala bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT dan kekasih-Nya Muhammad Saw dari segala penyimpangan dan pengingkaran. Dan itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mengabarkan tentang kebenaran Islam kepada masyarakatnya. Baru kemudian setelah pondasi akidah sudah tertanam kuat dalam hati, pendidikan mengenai amal perbuatan baik maupun amal perbuatan buruk dapat kembali dilanjutkan.
                                                                          
Seorang muslim sekali lagi dituntut untuk membuat pondasi keislamannya menjadi pondasi paling kuat yang pernah ia kenal maupun yang dikenal orang lain sebelumnya. Jika pondasi akidah anda kuat, maka akan semakin kuat pula bangunan Islam yang anda dirikan. Dan jika bangunan Islam anda sangat kuat, maka perjalanan akhirat anda tidak akan terganggu oleh segala kekacauan dan keruwetan dunia yag mendatangi anda dari segala arah. Tentu saja Allah juga tidak akan sungkan memberikan pertongan kepada anda, jika demikian kondisi bangunan Islam anda. Percayalah, saudaraku!




Friday, October 10, 2014

AMPLOP DI KOLONG PINTU

Assalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ammaa ba’du.

Ketika yang lain mengumpulkan uang, kita menebarnya, membaginya. Ketika yang lain berburu uang dan menahannya, kita malah melepasnya. Itulah sedekah.

Konsep-konsep aneh dalam sedekah, dianggap tidak lazim sebab kita memang tidak terbiasa. Mana ada cerita sebuah konsep: “Jika mau dicukupkan Allah, sedekahkan apa yang kurang”? Jika yang lain malah mencari pinjeman dan pontang panting usaha sana sini untuk mencukupkannya, kita malah dengan entengnya menyedekahkan apa yang kurang itu. Konsep aneh.

Terasa aneh juga. Anak-anak lapar, ada kebutuhan, ada hajat, namun pas ada, malah mentingin anak orang lain, mentingin kebutuhan dan hajat orang lain.

Aneh.

Dan sekali lagi, jadi aneh sebab kita tidak biasa melakukannya. Manakala kita terbiasa melakukannya, maka ia menjadi sebuah metode yang layak diikuti.

Pertanyaan demi pertanyaan kemudian muncul. Seputar ikhlas dan doa sebagai isyu utamanya. Tatkala sedekah dijadikan sebagai senjata, sebagai metodologi untuk membanyakkan rizki, sebagai wasilah yang disengaja untuk mendapatkan ampunan Allah, surga, dan keridhaan-Nya, mulailah muncul pertanyaan boleh atau tidaknya.

Pertanyaan kemudian berkembang lagi. Misalnya, apakah ketika seseorang meminta fadhilah, keutamaan, dari satu amal, di dunia ini, lalu ia akan kehilangan haknya di hari akhir? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan terus.


Dengan segala keterbatasan, saya memohon izin Allah, dan kemudahan untuk mengajar secuplik secuplik, sedikit demi sedikit, sambil menguraikan. Agar ada kepahaman juga, yang mudah-mudahan keyakinan yang selama ini diyakini, pengajaran yang selama ini diajarkan, adalah bukan satu kesalahan. Bukannya apa. Saya pun kadang risau. Jika seruan sedekah saya, MALAH KEMUDIAN MEMBAWA SAUDARA SEMUA JUSTRU KE NERAKA. Saya sebagai pendakwah di lapangan, sempat juga diliputi keraguan. Apa iya saya mengajarkan sesuatu yang salah? Sedang yang saya sampaikan adalah Janji Allah dan Rasul-Nya? Ketika yang lain, keutamaan sedekah muncul akibat ketidaksengajaan, maka saya justru menyeru untuk menyengaja. Ada yang tidak berani meminta, saya justru menyuruh diri saya dan orang lain untuk jangan segan-segan meminta. Berdoa. Kepada Allah.

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang saya coba turunkan lewat kesempatan demi kesempatan kali ini.

Kita awali dengan tulisan sederhana, berjudul: Amplop di Kolong Pintu...

***
Ada seorang anak yatim, yang sakit. Di ujung gang. Dan kita tergerak memberi ibu ini anak yatim, 100rb rupiah sebagai sedekah kita. Kita jalan diam-diam, no body knows. Tidak ada yang tahu. Bahkan kita pun menyengaja tidak memberi tahu siapapun. Kita sembunyikan segala niatan kita. Hanya Allah saja yang tahu.

Kita ambil amplop, lalu kita selipkan uang Rp. 100 tersebut. Kita pilih sengaja jalan menuju rumah si yatim di saat langit begitu sunyi dihiasi sinar sempurna rembulan. Satu alasan: Benar-benar supaya tidak ada yang tahu, bahwa di tangan kita tergenggam amplop putih berisi uang 100rb untuk si yatim.

Andai pun ada yang menegur: "Hendak kemana wahai anak muda?"

Niscaya kita hanya akan jawab dengan senyuman saja tanpa berkata-kata. Menghindari pertanyaan selanjutnya. Kalaupun perlu menjawab, kita hanya akan menjawab: "Sedang menikmati malam dan gemerlapnya bintang."

Lalu, di depan pintu rumah si yatim, kita pun menikmati kesendirian amal. Benar-benar tidak ada yang tahu. Sementara kita meyakini bahwa Malaikat-Malaikat Allah yang bersih hatinya lah yang menatap lekat perilaku kita dan mencatatnya bahwa amal ini mutlak milik Allah dan dipersembahkan hanya untuk Allah semata.

Melalui lobang kecil di bawah pintu, yang berjarak hanya setengah centi dari tanah, kita masukkan amplop tersebut. Amplop ini hanya bertuliskan: “Dari hamba Allah.”

Bahkan amplop itu masih berisi sedekah dalam bentuk yang lain. Yakni sedekah dalam bentuk sekalimat doa: “Semoga Ananda diberikan kesembuhan, dan ibu memiliki keberkahan memelihara anak yatim."

Tapi ya hanya sampai di situ. Benar-benar sampai di situ. Tidak ada ketukan pintu yang kemudian menjadi kesempatan buat kita memberi tahu si penghuni rumah bahwa ada amplop terselip di bawah pintu. Tidak. Amal ini begitu sunyi. Sesunyi malam yang dipilih.

Inilah yang barangkali disebut dengan “ikhlas” oleh kebanyakan orang. Berusaha keras menyembunyikan amal, hanya Allah saja yang tahu. Kerahasiaan amal dijaga demikian ketat. Hal-hal apa saja yang menyebabkan amal ini menjadi tetap tersembunyi, benar-benar dilakukan.

Tentulah TIDAK ADA YANG BERANI membantah tentang ikhlas yang model begini. Sayangnya, kemudian keyakinan/sudut pandang bahwa ikhlas adalah berhenti bermodel begini, lalu meniadakan/menafikan ikhlas yang lain.

Sebelum melanjutkan ke esai berikut, ada contoh tentang ikhlas yang berbeda: Seorang TKI, menyerahkan uang tabungannya yang sudah ia kumpulkan 3 tahun. Dengan harapan agar ia beroleh jodoh. Sudah 3x ia balik keluar negeri tempat ia bekerja, dan belom beroleh jodoh. Lalu, apakah pengharapannya ini salah? Layak kah kita menyebutnya tidak ikhlas? Ikhlas mana dengan kita yang menjaga tabungan kita hanya untuk diri kita? He he he.  

Ok deh, kita ikuti ya sesi-sesi berikutnya. Sampe ketemu. Mohon maaf lahir batin jika saya ada kesalahannya. Insya Allah jika Saudara sudah baca buku the miracle dan mengikuti dengan baik kuliah tauhid ini, pembahasan ini dan ke depan, sudah bukan hal baru lagi. Tapi ga mengapa. Belajar memang jangan hanya sekali. Tapi harus berkali-kali hingga pemahaman datang. Sengaja pembahasannya case by case. Judul per judul. Supaya pemahaman Saudara, terstruktur.

Allahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ alaa aali Sayyidinaa Muhammad. Allaahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’an wa yaqiinan shaadiqan. Wa ‘amalan mutaqobbalan wa rizqan halaalan waasi’an mubaarakan thayyiban. Allaahumma inna nas-alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ghinaa. Washallallaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammadin. Walhamdulillaahi robbil ‘aaalamiin.Subhaanakallahumma wa bihamdika nasyhadu al-laa-illaaha illallaah nastaghfiruka wa natuubu ilahi. Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


INFO SHADAQAH
Saya mengajak Anda untuk mendukung pembibitan Penghafal Al-Qur’an yang digagas oleh Ustadz Yusuf Mansur  dan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Daarul Qur’an.

Silahkan sampaikan donasi nya di rekening Sbb :
Atas nama Yayasan Daarul Qur’an Nusantara

Bank Syariah Mandiri         : A/C. 074 006 5000
BCA                                        : A/C. 603 030 8041
Bank Muamalat                   : A/C. 303 003 3615
Bank Mandiri                        : A/C. 128 000 509 2975
Bank Bukopin Syariah        : A/C. 880 0420 017
Bank Mega Syariah            : A/C. 100 000 6822
Bank BNI Syariah                : A/C. 1699 1699 6
Bank DKI Syariah                : A/C. 701 700 9003
Bank Permata Syariah       : A/C. 97 1010 606
Bank Danamon Syariah     : A/C. 731 34 769
BRI                                         : A/C. 0523 01 0000 34 30 4

Konfirmasikan sedekah Anda melalui sms ke : 081519002828. Untuk konfirmasi sedekah Anda, ketik : Konfirmasi/Nama/Via Bank/Nominal Sedekah/Tanggal Transfer/Nomor Resi/Keterangan Donasi (infak/sedekah/wakaf). Hajat. Lalu kirinkan ke alamat HP tersebut di atas.
 
Semoga para donator dilipatgandakan pahalanya dan disegerakan dengan rizki berlimpah berkah penuh kebaikan. Amin.





Sunday, October 5, 2014

AMALAN MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD SAW

Tidak ada mimpi terindah bagi kaum muslim selain mimpi bertemu Rasulullah, Muhammad SAW. Sebab mimpi bertemu adalah berarti benar-benar beliau yang bertemu dengan kita. Sebab siapapun termasuk malaikat dan jin tidak akan mampu menjelmakan diri sebagai Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam perjumpaan dengan Sang Kekasih Allah ini, kita bisa berdialog dan berdiskusi apa saja. Dia akan memberikan pitutur yang sangat bermanfaat bagi hidup kita. Ini adalah amalan untuk bertemu dalam mimpi:

Pada malam Jum’at usai sholat Maghrib bacalah Surat Al Qadr 1000 X.

Selanjutnya sholat dua rakaat. Pada rakaat pertama dan kedua setelah membaca Surat Al Fatihah, baca surat Al Fatihah lagi 15 X dan Ayat Kursi 15 X.

Setelah sholat, membaca salawat 7 kali: Shallaallaahu alaa Muhammad.

Selanjutnya, tidurlah di atas sajadah dengan menghadap kiblat.

Insya Allah, Nabi Muhammad akan berkenan untuk menemui Anda, umat yang rindu padanya dan akan memberikan petunjuk-Nya bagi keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Tuesday, September 2, 2014

BERPIHAK KEPADA YANG HALAL


Assalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ammaa ba’du.

Saudaraku,…
Kehidupan adalah sebuah pilihan yang memiliki tanggungjawab tersendiri. Berpihak kepada keburukan memiliki sebuah akibat yang harus diterima pelakunya dan berpihak kepada kebaikan juga memiliki akibat tertentu. Kalau Anda menanam jagung, maka kelak atau sebentar lagi Anda akan memanen jagung. Kalau menanam padi, maka kelak Anda pun akan memanen padi. Demikianlah kehidupan ini terjadi.

Manusia itu sesungguhnya hidup diantara banyak pilihan. Dunia ini telah menghampiri kita menawarkan banyak keyakinan yang dinyatakan sebagai sebuah kebenaran. Dunia juga menawarkan kepada kita berbagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Kesemuanya itu terbagi dalam dua kelompok yang saling bertentangan, yaitu halal dan haram.

Diantara dua pilihan itulah Islam hadir menegaskan batas-batas yang jelas diantara kedua pilihan tersebut. Islam mengajak semua manusia untuk berpihak kepada yang halal dan meninggalkan yang haram tanpa keraguan sama sekali. Dan didalam kehidupan yang banyak dijejali banyak hal yang haram inilah, berpihak kepada yang halal sungguh membutuhkan kekuatan niat yang luar biasa.

Niat tersebut selayaknya disandarkan hanya kepada Allah SWT. Sesungguhnya kekuatan niat seperti ini mampu member energy tambahan untuk tetap istiqomah berpihak kepada yang halal. Jika niat Anda karena mengharapkan ridho Allah, maka Allah SWT akan membantu kita untuk selalu berpihak kepada yang halal. Teguhkanlah niat kita untuk berpihak kepada yang halal diantara banyaknya kesenangan yang diharamkan oleh Allah SWT.

Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah suatu ketika pernah berkata, "Ada seorang wanita jalang yang kecantikannya melebihi wanita-wanita seusianya. Dia akan menyerahkan dirinya bila dibayar dengan 100 dinar (425 gram emas). Kemudian ada seorang pria yang melihatnya. Dia merasa kagum dan menginginkan si wanita tadi. Lalu si pria pergi dan bekerja keras membanting tulang dengan tangannya sendiri, sampai akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang 100 dinar. Kemudian dia mendatangi si wanita dan berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah membuatku kagum, kemudian aku pergi dan bekerja membanting tulang hingga berhasil mengumpulkan 100 dinar."

Si wanita berkata, "Bayarkanlah uang itu pada kepala pelayan agar dicek keaslian dan ditimbang beratnya." Setelah dibayarkan si wanita berkata lagi, "Masuklah." Si wanita itu mempunyai rumah yang dihias dengan indah dan ranjang dari emas. Ketika sudah masuk, "Ayolah," ajak si wanita. Si pria pun bersiap untuk melaksanakan hasratnya, namun saat itu pula dia ingat bagaimana nanti dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tubuhnya jadi gemetar dan syahwatnya langsung hilang. Maka dia batalkan niatnya dan berkata, "Biarkanlah aku keluar dan pergi dan uang 100 dinar itu ambil saja untukmu!"

Dengan penuh perasaan heran si wanita bertanya, "Ada apa denganmu? Kau telah mengaku pernah melihatku dan kagum padaku serta menginginkan diriku. Kemudian engkau pergi bekerja membanting tulang hingga mengumpulkan 100 dinar, dan setelah engkau bisa mendapatkan aku, kamu kok jadi begini?" Si Pria menjawab, "Tidak ada yang mendorongku dalam hal ini selain rasa takutku kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aku membayangkan bagaimana saat nanti aku akan berdiri di hadapan-Nya mempertanggungjawabkan perbuatanku." Si wanita berkata, "Bila engkau benar demikian, maka tidak ada yang berhak menjadi suamiku selain engkau." Tetapi si pria menanggapinya dengan berkata, "Biarkan aku pergi saja." Si wanita berkata, "Boleh, tetapi kau harus berjanji, bahwa nanti kau akan mengawiniku." Si pria berkata lagi, "Tidak ada janji sampai aku keluar." Si wanita tetap teguh memaksa, "Engkau harus berjanji, demi Allah, bila nanti aku datang kepadamu engkau harus mengawiniku." "Ya, mungkin," jawabnya singkat.

Lalu dia mengenakan pakaiannya kemudian terus pergi menuju negerinya. Dan si wanita pun berangkat meninggalkan dunia hitamnya dengan penuh penyesalan atas segala yang diperbuatnya. Sampai akhirnya ia tiba di negeri si pria itu. Lalu dia bertanya pada orang-orang di sana tentang nama dan alamat si pria itu. Orang-orang berkomentar, "Sekarang ini, sang ratu cantik itu datang sendiri bertanya tentang engkau."

Saat si pria melihatnya, dia terkejut, kemudian kejang lalu mati dan jatuh di hadapan wanita itu. Maka si wanita berkata, "Aku sudah tidak mungkin mendapatkan orang yang satu ini, tapi apakah ia punya seorang kerabat?" Orang-orang menjawab, "Ya, ada, dia punya saudara laki-laki yang miskin."

Si wanita tadi akhirnya berkata pada saudara laki-lakinya, "Aku ingin menikah denganmu, karena aku cinta pada saudaramu". Akhirnya keduanya menikah dan dikaruniai tujuh orang anak."

Saudaraku,…
Cerita di atas saya harap mampu membuka hati kita menguatkan niat untuk selalu berpihak kepada yang halal. Demikianlah yang akan Anda lakukan jika Anda mencintai Allah SWT. Demikianlah yang Anda lakukan jika Anda mencintai kekasih Allah Muhammad Saw. Janganlah Anda bimbang untuk menjauhi kesenangan yang diharankan oleh Allah. Jika Anda mencintai Allah dengan meninggalkan kesenangan yang diharamkan-Nya, maka tidak sungkan lagi memberikan Anda kesenangan yang baik dari sisi-Nya. Dan kesenangan apalagi yang lebih menyenangkan daripada kesenangan yang dipenuhi keberkahan Allah SWT.

Alhamdulilaahi rabbil ‘aalamiin. Washalaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin. Nabiyyinaa Muhammadin shallaallahu ‘alaihi wasallama. Wa ‘alaa aalihi wa azwaajihii wa dzurriyyatihii wa ash-haabihii wa ummatihii ilaa yamuddiin. Wassalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Thursday, August 28, 2014

BERSYUKUR DALAM KEPAYAHAN



Saudaraku,…                         
Setiap muslim harus selalu menyiapkan dirtinya menghadapi pergolakan yang terjadi di dunia, apapun itu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Demikian juga kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan saudara-saudara kita atau lingkungan tempat tinggal kita.

Islam menuntut setiap muslim untuk selalu bersiaga terhadap keadaan apapun yang akan terjadi. Bagian utama dari kesiagaan tersebut adalah senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun. Seorang muslim selayaknya tidak hanya bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dalam hidup, tetapi semestinya pula mampu bersyukur ketika ia dalam kepayahan. Berprasangka baiklah kepada Allah. Allah itu Dzat yang sangat cermat dan teliti dalam rencana-renca-Nya. Apapun yang terjadi dengan Anda, tetaplah bersyukur kepada Allah dengan kegembiraan yang besar. Tetapi ketika Anda bersyukur menggunakan lisan dan anggota tubuh Anda, cobalah Anda mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitar Anda. Ketika Anda memperoleh pertolongan ketika orang lain tidak mendapat pertolongan, maka berlakulah bijak untuk menahan kegembiraan Anda yang meluap-luap di hadapan mereka.

Di dalam sebuah riwayat diceritakan Sari al-Suqthi, seorang ulama ahli ilmu tauhid yang sangat wara' berkata, "Sudah tiga puluh tahun lamanya aku selalu membaca istighfar, dan baru sekali ini aku membaca alhamdulillah."

"Bagaimana ceritanya?" tanya seorang sahabatnya.

"Pada waktu terjadi peristiwa kebakaran di pasar Baghdad, seseorang dengan tergopoh-gopoh datang menemuiku seraya memberitahukan bahwa kedaiku selamat. Spontan aku berucap 'Alhamdulillah!' Tetapi, lantas aku menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku sendiri di atas penderitaan orang banyak." jawabnya.

Perkataan Sari al-Suqthi menegaskan kembali kepada kita, betapapun juga perbuatan baik (bersyukur kepada Allah) semestinya tidak menyakiti perasaan orang lain.

Saudaraku,…
Jika Anda mampu bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan, itu adalah baik. Tetapi lebih sangat baik jika Anda mampu mengatur manajemen syukur Anda tanpa menyinmggung peraan saudara Anda yang sedang berduka atau kepayahan dalam hidup.

Semoga engkau dicintai Allah, saudaraku!

SEMUA TIDAK TERJADI BEGITU SAJA

Setiap kejadian yang hari ini terjadi padamu, bukan serta merta terjadi begitu saja. Jujur saja. Jangan pura-pura kaget dan seolah menjadi k...