Tuesday, January 9, 2024

BETAPA HEBATNYA KEBOHONGAN

Jangan remehkan kebohongan. Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara. Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta. Maka, adalah naif, jika anda berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah.

Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula. Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi. Dibutuhkan kekerasan otot baja untukmengubah fakta dan data nyata. Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.

Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha yang terbaik pula! Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya. Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran. Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.



 

Monday, January 8, 2024

CINTA KASIH TANPA IKATAN

Saudaraku,…
Rasa kesepian, merasa sendiri saja tanpa teman, merasa terasing dan tidak ada yang mempedulikan, perasaan ini amat ditakuti oleh semua orang. Perasaan ini mendatangkan iba diri dan kesedihan. Karena takut akan rasa kesepian inilah maka semua orang mudah sekali terikat, bahkan suka mengikatkan diri dengan sesuatu. Kita merasa ngeri kalau harus menderita kesepian, maka kita mengikatkan diri dengan isteri, keluarga, sahabat, bangsa, suku kelompok, atau kita mengikatkan diri dengan gagasan-gagasan sehingga kita merasa aman dan merasa “tidak sendirian”. Rasa ngeri membayangkan harus bersendirian inilah agaknya yang membuat kita merasa ngeri akan kematian. Bagaimana kalau kita mati? Kita akan sendirian, akan kehilangan segala-galanya! Inilah yang mendatangkan kengerian, dan karena ini pula maka kita mengikatkan diri dengan segala macam agama atau kepercayaan, sebagai penghibur diri di waktu masih hidup bahwa kalau kita mati kelak, kita akan terbebas daripada “sendirian” itu.

Akan tetapi, benarkah bahwa kesunyian, keheningan, di mana kita berada seorang diri, baik jasmani maupun rohaniah, sendiri tanpa siapapun juga, mendatangkan kengerian? Siapakah itu yang merasa ngeri? Bukankah yang takut itu adalah pikiran yang membayangkan segala keadaan, mengharapkan yang menyenangkan dan menghindarkan yang tidak menyenangkan? Pernahkah kita menghadapi kesunyian ini, kesepian ini, rasa bersendirian ini, menghadapinya, mengamatinya tanpa penilaian, tanpa pendapat dan gagasan tentang kesepian itu? Maukah kita mencoba untuk menyelami kesepian ini, memandangnya tanpa ide-ide tentang kesepian sehingga antara kesepian dan kita tidak ada jarak pemisah lagi? Sehingga kita merupakan sebagian daripada keheningan itu?

Proses badaniah yang menjadi tua, lapuk lalu mati, merupakan hal yang wajar. Kita tidak merasa takut atau ngeri akan hal itu. Yang kita takutkan adalah bagaimana nanti jadinya dengan “kita”! Bagaimana nanti dengan keluarga kita, orang-orang yang kita cinta, dengan harta benda kita, dengan nama kita, kedudukan kita dan sebagainya lagi. Semua ikatan-ikatan itulah yang membuat kita merasa ngeri untuk mati, ngeri untuk berpisah dari semua itu. Kita merasa ngeri karena dengan kehilangan semua itu, kita ini BUKAN APA-APA lagi. 

Kita membayangkan, apakah jadinya dengan kita kalau kita tidak punya keluarga lagi, tiada teman, tiada harta benda, tiada segala yang kesemuanya mendatangkan kesenangan itu? Itulah sebabnya mengapa kita takut akan kematian, takut akan kesepian. Pikiran yang membentuk si aku yang selalu ingin senang dan menjauhi ketidaksenangan, pikiran ini yang merasa ngeri karena membayangkan bahwa semua kesenangan itu akan berpisah dari kita. Akan tetapi, kita dapat merasakan keadaan mati ini selagi kita masih hidup. Jasmani kita masih hidup, akan tetapi kalau batin kita dapat terbebas dari segala ikatan, maka rasa takut akan kehilangan ikatan-ikatan itu tidak ada. 

Dan tanpa adanya rasa takut ini, maka keheningan atau kesunyian akan merupakan sesuatu yang lain sama sekali! Bukankah berarti bahwa kita lalu menjadi seperti patung hidup! Sama sekali tidak. Kita masih hidup di dalam dunia ramai dengan segala aneka ragam, namun batin kita bebas daripada ikatan, sehingga kalau sewaktu-waktu kita harus berpisah, kita tidak akan merasa takut atau ngeri, kita tidak akan merasa berduka. Ikatan selalu menimbulkan rasa takut akan kehilangan dan rasa duka kalau kehilangan. Makin kuat ikatan itu, makin besar rasa takut dan makin besar kedukaan. Sebuah benda saja dapat nenimbulkan ikatan yang demikian kuat sehingga kalau kita kehilangan benda itu, akan timbul rasa duka yang amat sangat. Dapatkah kita terbebas dari ikatan dengan kesemuanya itu?

Ada yang bertanya bahwa kalau kita bebas daripada ikatan dengan keluarga, bukankah itu berarti bahwa kita tidak mencinta keluarga kita lagi? Sama sekali bukan demikian. Cinta kasih sama sekali bukanlah ikatan! Kalau kita mencinta anak kita, benar-benar mencintanya, hal itu bukan berarti bahwa kita harus terikat dengan anak kita itu. Yang ada hanya bahwa kita ingin melihat anak kita berbahagia hidupnya! Sebaliknya, ikatan menimbulkan keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, karena memang ikatan diciptakan oleh si aku yang ingin senang tadi. Cinta yang mengandung ikatan bukanlah cinta kasih namanya, melainkan keinginan untuk memuaskan dan menyenangkan diri sendiri. Cinta yang mengikat kepada anak menimbulkan keinginan untuk menguasai anak itu, untuk memperoleh kesenangan batin melalui si anak, dan terasa berat kalau berpisah, karena si aku merasa dipisahkan dengan sumber yang menyenangkan diri. Tidakkah demikian? 

Demikian pula dengan isteri atau suami atau keluarga atau benda, atau juga gagasan. Semua itu hanya merupakan alat untuk menyenangkan diri sendiri dan karenanya menimbulkan ikatan. Cinta kasih baru ada kalau tidak terdapat keinginan untuk menyenangkan diri sendiri. Dan tanpa adanya cinta kasih, tidak mungkin ada kebaikan atau kebajikan, karena tanpa adanya cinta kasih, segala yang nampak baik itu adalah semu, berpamrih, dan segala macam pamrih itu sumbernya adalah pada si aku yang ingin senang.

Tulisan ini dikutip dari :
Cerita silat karya Asmaraman S / Kho Ping Hoo

Sunday, January 7, 2024

JANGAN LUPAKAN KEBAIKAN ORANG LAIN


“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.”

(QS. Al-Baqarah: 237)

#Nazeer
#motivasipagi
#26umadilAkhir1445H

Wednesday, November 1, 2017

DO'A UNTUK ANAK / KELAHIRAN

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka.

Ada beberapa adab dan do'a yang diambil dari Al-Qur'an dan hadits yang bisa dijadikan rujukan untuk mendo'akan calon anak/anak kita. Saya coba sampaikan beberapa:
1. Perbanyak   saja  baca AL-QUR'AN. Baik oleh calon bapak-nya/suami atau oleh sang calon Ibu/istri.
2. Jaga kelakukan diri dari perbuatan yang tidak baik.Spt: mudah marah, bergunjing, menyakiti makhluk lain, dll.
3. Baca do'a ini : ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN ( surat ash-shoffat ayat 100 ) artinya:Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ( anak ) yang termasuk orang-orang yang sholeh.
4. Baca  do'a  ini :  ROBBI  HABLII  MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII'UD DU'AA'I (surat Ali imran ayat 38 ) artinya : Ya Tuhanku berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik.Sesungguhnya Engkau Maha mendengar (memperkenankan do'a).
5. Baca  do'a  ini  :  ROBBANAA  HAB  LANAA  MIN  AZWAAJINAA WADZURRIYYATINAA QURROTA A'YUNIN WAJ'ALNAA LILMUTTAQIINA IMAAMAN ( surat Al-furqon ayat 74 ) artinya : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri kami dan keturunan kami yang menyejukkan hati kami dan jadikanlah kami pemuka bagi orang-orang yang bertakwa.
6. Bacaan  ketika  akan  melahirkan memperbanyak membaca do'a antara lain:
* ayat kursi ( surat Al Baqoroh (surat 2) ayat 255 )
* surat Al A'raf ( surat 7 ) ayat 54
* surat Al Falaq ( surat 113 ) ayat 1 - 5
* surat An Naas ( surat 114 ) ayat 1 – 6
7. Bacakan  adzan  ditelinga kanan dan iqomat ditelinga kiri ketika bayi telah lahir, agar jin yang mengganggu kanak-kanak ( ummush shibyan ) tidak akan mengganggu ( hadits riwayat Ibnus Sunni ).
8. Ketika  melihat   anak   yang   baru  lahir  baca do'a ini: INNII U'IIDZUKA BIKALIMAATILLAHIT TAAMMATI MIN KULLI SYAYTHOONIN WA HAAMMATIN WAMIN KULLI 'AYNIN LAAMMATIN ( hadits riwayat Bukhari ) artinya : Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya.

Semoga Allah melindungi kita, dan mengampuni semua kesalahan dan keburukan kita. Aamiinn...

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli shalatan kamilatan wasallim salaaman taamman ‘alaa sayyidina Muhammadinilladzii tanhallu bihil ‘uqodu watanfariju bihil kurobu watuqdhaa bihil hawaa-iju watunaalu bihir raghaa-ibu wahusnul khawaatimi wayustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa ‘alaa aalihii washahbihii fii kulli lamhatin wanafasim bi’aadadi kulli ma’luumil laka. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.


PELUANG BISNIS ONLINE
Mau berbisnis sambil bersedekah? Ayo gabung saja di PayTren Ustad Yusuf Mansur. PAYTREN. Solusi bagi Siapa Pun yang ingin Sukses Bisnis secara Cepat dengan Modal Terjangkau!!

Jika Anda tertarik dengan informasi ini atau ingin bergabung bersama kami, silahkan klik link ini : http://agung79.paytreni.com



Friday, October 20, 2017

ENGGAN MANDI JANABAT

Pernahkah terpikir di benak Anda mengapa seseorang harus mandi janabat, lebih-lebih bagi seorang muslim? Jika Anda seorang muslim yang baik, tentu akan mengatakan karena Allah SWT dan kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw menghendaki demikian.  Seorang muslim yang baik tentu akan melaksanakan perintah Allah tanpa harus berpikir panjang lebih dahulu. Demikian pula ketika ia menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Seorang muslim tidak pernah meragukan setiap kebenaran yang melekat pada perintah dan larangan Tuhannya. Dalam pemahamannya, setiap tindakan yang dikehendaki oleh allah SWT adalah sebuah kebenaran yang tidak perlu dipertentangkan lagi. 

Jikapun harus bertanya, maka pertanyaannya adalah mengapa perbuatan itu harus dikerjakan. Jawabannya adalah karena disitulah terletak banyak kebaikan. Dalam hal perintah Allah mengenai mandi janabat, maka tentu saja tujuan perintah Allah yang satu ini adalah membersihkan seluruh hati dan jasmani dari kotoran-kotoran yang melekat pada manusia. Berbeda dengan mandi biasa, mandi janabat lebih ditekankan kepada pada pembersihan kotoran yang dikeluarkan alat kelamin manusia karena aktifitas seksual maupun perbuatan-perbuatan lain yang membuat alat kelamin tersebut mengeluarkan kotoran (sperma).

Dan tahukah Anda, apa yang terjadi jika Allah SWT tidak memberlakukan syariat ini untuk kita semua. Sungguh mengerikan saudaraku. Banyaknya penyakit kelamin yang melemahkan manusia sedikit banyak disebabkan oleh kotoran dan virus penyakit yang melekat pada alat kelamin manusia. Kelalaian mandi janabat tidak saja menjadikan ancaman serius bagi keselamatan manusia, tetapi juga kebencian Allah kepada para pelakunya. 

Aban bin Abdullah al-Bajali pernah berkata, “Suatu hari ada tetanggaku yang meninggal dunia. Aku segera datang ke rumah duka. Bersama-sama dengan beberapa orang aku turut memandikan jenazah itu, menyalatkannya, dan juga mengantarkannya ke makam. Sewaktu jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat, aku melihat bahwa di dalam liang lahat itu ada seekor binatang yang bentuknya mirip kucing. Binatang itu segera dihalau. Meskipun berkali-kali binatang itu dihalau, namun ia tidak juga beranjak keluar dari tempatnya. Bahkan, binatang itu dipukul dengan cangkul, tetapi tidak sedikit pun ia bergerak dari tempat itu. Terpaksalah kami mencari tempat lain dan menggali liang kubur baru. Di tempat baru, tanahnya pun segera digali. Setelah liang kubur itu selesai, jenazah siap dimasukkan ke dalamnya. Pada saat jenazah telah berada di mulut lubang kubur dan siap untuk diturunkan, maka binatang yang mirip kucing tadi yang berada di liang kubur pertama sekonyong-konyong melompat ke dalam liang kubur baru tersebut. Karena, memang sudah tidak dapat dielakkan, maka terpaksa diambil keputusan untuk menguburkan jenazah dengan binatng tersebut sekalian. Sewaktu tanah-tanah diturunkan menutup liang lahat, dari dalam lubang kubur, kami mendengar suara binatang tadi seperti sedang mengeremus tulang-tulang jenazah. Aku dan kawan-kawan lain menjadi kebingungan dan terheran-heran mengapa sampai binatang itu mengeremus tulang-tulang jenazah tersebut. Kami lalu mencari jawabannya dengan menemui istri almarhum. "Perbuatan apa kira-kira yang membuat suamimu mengalami siksaan yang demikian itu?" Demikian kami bertanya kepada istri almarhum.
Istri almarhum menjawab, "Suamiku itu biasa tidak mau mandi janabat!"

Saudaraku,..
Semoga Allah selalu membimbing kita menyucikan hati dan jasmani dari setiap kotoran kehidupan. Dan semoga pula Allah menjaga setiap mandi janabat yang kita lakukan senantiasa dalam keberkahan Allah SWT. Amiin!


PELUANG BISNIS ONLINE
Mau berbisnis sambil bersedekah? Ayo gabung saja di PayTren Ustad Yusuf Mansur. PAYTREN. Solusi bagi Siapa Pun yang ingin Sukses Bisnis secara Cepat dengan Modal Terjangkau!! 

Jika Anda tertarik dengan informasi ini atau ingin bergabung bersama kami, silahkan klik link ini : http://agung79.paytreni.com

Monday, March 7, 2016

JIKA KEBAIKAN BERHARAP PAMRIH


Saudaraku,…
Kalau kita berbuat kebaikan agar dipuji, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar dibalas dengan bunganya, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar jangan dihukum, baikkah itu? Yang dua pertama dasarnya menginginkan sesuatu, yang terakhir dasarnya takut. Ketiganya palsu! Segala sesuatu, termasuk perbuatan, haruslah wajar dan aseli. Yang aseli dan wajar itu selalu benar dan indah. Kalau diperkosa, dirubah dengan paksa, maka akan timbul kepalsuan, pertentangan dan keburukan. Menginsyafi, dan menyadari akan keburukan diri sendiri berarti merintis jalan ke arah lenyapnya keburukan itu, dan hanya dengan tidak adanya keburukan maka keindahan tercipta.

Perbuatan buruk timbul dari rasa sayang diri. Mengusahakan agar dirinya baik dengan jalan pengekangan, tapa brata, menyiksa diri, dan lain sebagainya takkan membawa hasil, karena usaha ini pun merupakan kembang dari rasa sayang diri, jadi tiada bedanya dengan keburukan. Di mana-mana ada keburukan, di sana kebenaran, kebaikan atau keindahan takkan muncul. Yang terpenting adalah rnengenal diri pribadi, mengenal sifat-sifatnya, keburukan-keburukannya, cacat-cacatnya, menginsyafi, menyadari dengan kesungguhan bukan pura-pura, dan keburukan akan tiada! Kalau keburukan tiada, dengan sendirinya yang ada hanyalah kebenaran, dan keindahan.



Tulisan ini dikutip dari :
Cerita silat karya Asmaraman S / Kho Ping Hoo



Thursday, February 18, 2016

INDAHNYA KEBAIKAN



Saudaraku,..
Dalam sebuah riwayat diceritakan Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan. Suatu hari sang budak menuangkan air wudhu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)."  Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku." Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya). Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu." Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan). Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." 


Subhanallah! Sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu).

Itulah sikap seorang muslim yang sesungguhnya. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya.

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini.

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya.

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka.

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka.

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka.

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat.

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan.

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya.

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah.

Demikian saudaraku, bentuk-bentuk kebaikan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah. Wallahu a'lam bish shawab.

SEMUA TIDAK TERJADI BEGITU SAJA

Setiap kejadian yang hari ini terjadi padamu, bukan serta merta terjadi begitu saja. Jujur saja. Jangan pura-pura kaget dan seolah menjadi k...