Monday, March 7, 2016

JIKA KEBAIKAN BERHARAP PAMRIH


Saudaraku,…
Kalau kita berbuat kebaikan agar dipuji, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar dibalas dengan bunganya, baikkah itu? Kalau kita berbuat kebaikan agar jangan dihukum, baikkah itu? Yang dua pertama dasarnya menginginkan sesuatu, yang terakhir dasarnya takut. Ketiganya palsu! Segala sesuatu, termasuk perbuatan, haruslah wajar dan aseli. Yang aseli dan wajar itu selalu benar dan indah. Kalau diperkosa, dirubah dengan paksa, maka akan timbul kepalsuan, pertentangan dan keburukan. Menginsyafi, dan menyadari akan keburukan diri sendiri berarti merintis jalan ke arah lenyapnya keburukan itu, dan hanya dengan tidak adanya keburukan maka keindahan tercipta.

Perbuatan buruk timbul dari rasa sayang diri. Mengusahakan agar dirinya baik dengan jalan pengekangan, tapa brata, menyiksa diri, dan lain sebagainya takkan membawa hasil, karena usaha ini pun merupakan kembang dari rasa sayang diri, jadi tiada bedanya dengan keburukan. Di mana-mana ada keburukan, di sana kebenaran, kebaikan atau keindahan takkan muncul. Yang terpenting adalah rnengenal diri pribadi, mengenal sifat-sifatnya, keburukan-keburukannya, cacat-cacatnya, menginsyafi, menyadari dengan kesungguhan bukan pura-pura, dan keburukan akan tiada! Kalau keburukan tiada, dengan sendirinya yang ada hanyalah kebenaran, dan keindahan.



Tulisan ini dikutip dari :
Cerita silat karya Asmaraman S / Kho Ping Hoo



Thursday, February 18, 2016

INDAHNYA KEBAIKAN



Saudaraku,..
Dalam sebuah riwayat diceritakan Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan. Suatu hari sang budak menuangkan air wudhu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)."  Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku." Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya). Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu." Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan). Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." 


Subhanallah! Sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu).

Itulah sikap seorang muslim yang sesungguhnya. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya.

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini.

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya.

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka.

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka.

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka.

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat.

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan.

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya.

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah.

Demikian saudaraku, bentuk-bentuk kebaikan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah. Wallahu a'lam bish shawab.

Monday, January 25, 2016

DOA KE-3



Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya, dan Engkau pula yang mengaturnya. Engkau pula yang menggenggam segala urusan dan mengetahui rahasia kejadian masa depan.

Ya Allah, Engkaulah yang mempunyai petunjuk tentang segala hal. Dalam hal semua permasalahan yang kami hadapi, tunjukkanlah kami jalan yang benar, Wahai Zat Yang Maha Menunjuki Jalan. Jalan yang dapat menyelesaikan masalah kami dengan sempurna, bukan jalan yang hanya menimbulkan masalah yang baru. Jangan kembalikan kami ke dalam kesusahan ya Allah, setelah Engkau ringankan beban kami. Engkau Maha Mengetahui kemampuan kami.

Hadirlah ya Allah di tengah ketidakberdayaan kami. Hadirlah ya Allah di tengah lemahnya kami menghadapi problematika hidup dan kehidupan. Hadirlah ya Allah, di setiap episode kehidupan yang kami jalani. Jangan biarkan kami berjalan seperti orang buta yang berjalan di dalam hutan kegelapan, sebab tidak ada cahaya dan hidayah dari-Mu.

Ya Allah, kami pasrahkan segala urusan dan peruntukan nasib kami kepada-Mu ya Allah. Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, tidak ada yang tidak mungkin di hadapan kuasa-Mu, termasuk penyelesaian segala rupa masalah kami, dan jawaban atas setiap keinginan kami. Engkaulah Allah Tuhan kami. Hidupkanlah ya Allah, hidupkan iman di dada kami, di kehidupan kami. Amin.


Tulisan ini dikutip dari buku WISATA HATI : Kehidupan Yang Rapuh
Yang ditulis Ustadz Yusuf Mansur.

Tuesday, December 1, 2015

DOA KE-2


Ya Allah, godaan selalu terbentang di depan mata, menggoda manusia dan menjadi ujian siapa yang bisa memelihara iman dan siapa yang tidak. Baik terhadap kesusahan, yaitu bagaimana kesusahan bisa diatasi, dan terhadap kesenangan, yaitu ketika bagaimana kesenangan ingin kita raih.

Selamatkan kami semua ya Rabb, di situasi apapun godaan itu datang. Amiin!

Ya Allah, semula hamba menganggap tak mengapa sedikit berbohong. Semula hamba mengira tak mengapa sedikit curang. Ternyata yang terjadi kemudian apa yang hamba dapatkan menjadikan ketenangan menjauh. Betul, ada yang diraih dengan jalan menipu, berbohong, dan zalim. Tapi apa yang teraih kemudian bisa lenyap begitu saja.  Atau kalaupun yang teraih itu masih ada, ketenangan yang pergi. Ketenangan ada pada sikap menerima dan menjalani kehidupan ini.

Ya Rabb, Engkau Pemelihara hamba, ketika Engkau pelihara alam ini beserta isinya dengan rahmat-Mu dan penjagaan dari-Mu, pelihara juga diri hamba mampu hidup lurus, tanpa kebohongan, tanpa dusta.

Terima kasih ya Allah di setiap peringatan yang Engkau berikan kepada hamba dan kepada semua orang yang menerima keterpurukan sebagai peringatan. Lebih baik Engkau cabut kenikmatan yang hamba genggam, sekarang, di dunia ini. Supaya hamba bisa segera memperbaiki diri sebelum kematian menjemput. Hanya yang hamba minta adalah ketetapan keterpurukan tersebut jangan terjadi selama sisa hidup hamba. Hamba pun ingin bangkit kembali, saatnya hamba bangun, jadikan kesombongan, juga gengsi, dan lupa diri bukan lagi sebagai wajah hamba. Amiin!


Tulisan ini dikutip dari buku WISATA HATI : Kehidupan Yang Rapuh
Yang ditulis Ustadz Yusuf Mansur.





Wednesday, October 28, 2015

DOA KE -1



Kejujuran itu indah, kejujuran itu manis, kata Engkau. Tapi kalau kata nafsu, kejujuran itu pahit, kejujuran itu hanya akan memperlambat datangnya kekayaan. Lalu kepda siapa kemudian hamba harus percaya? Ternyata hamba memilih percaya pada nafsu. Akibatnya? Menderita! Maafkanlah hamba-Mu yang tidak mempercayai segala firman-Mu. Sekarang hamba menghadap dengan membawa sejuta permasalahan lagi yang timbul akibat kebohongan dan dusta.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana, hamba yang berbuat kesalahan, tapi hamba yang meminta-Mu menyelesaikannya. Tapi Engkau adalah Tuhan yang tidak akan pernah merasa terbebani dengan segala permohonan hamba-Mu.

Ya Allah, hamba yang berbuat keburukan, tapi Engkau yang hamba minta menahan akibat keburukan itu datang. Itu semua karena Engkau yang mempunyai kebijaksanaan yang luar biasa luasnya dan Engkau juga yang mempunyai kuasa atas segala sesuatu.

Pelajaran apa lagi yang hamba bisa petik dari keterpurukan dan ketersudutan hamba? Yaitu bahwa tidak ada perbuatan buruk yang manis akibatnya! Tanamkanlah hikmah ini di dalam setiap gerak dan piker hamba, supaya hamba selamat dunia dan akhirat.

Hamba juga percaya bahwa Engkau bukan hanya mengasihi dan menyayangi mereka yang berjalan lurus, tapi juga Engkau mengasihi dan menyayangi mereka yang menyatakan ingin kembali dan bertaubat kepada-Mu. Bahkan Engkau mengasihi dan menyayangi semua orang. Hamba saja yang tidak menjangkau kasih sayang-Mu. Catatkanlah hamba sebagai bagian dari orang-orang yang mau memperbaiki diri, mau membersihkan hati dan pikiran, agar kasih sayang-Mu segera hadir di dalam kehidupan ini. Amiin!



Tulisan ini dikutip dari buku WISATA HATI : Kehidupan Yang Rapuh
Yang ditulis Ustadz Yusuf Mansur.